285 Views

Menarakaltim.com, Samarinda – Ketimpangan pembangunan infrastruktur di Kota Samarinda kembali menjadi sorotan. Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, menilai bahwa daersh pinggiran seperti Palaran masih tertinggal jauh dibandingkan dengan pusat kota yang terus mendapatkan perbaikan.

Dalam rapat konsultasi publik yang digelar bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapperida) pada Kamis (13/2/2025), Samri mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak adil dalam menentukan skala prioritas pembangunan.

“Di pusat kota, jalan yang sudah bagus masih diperbaiki lagi. Sementara di daerah kami, ada yang bahkan belum pernah tersentuh pembangunan sama sekali. Masih ada jalan yang hanya berupa tanah,” tegasnya.

Ia mempertanyakan konsep ‘pembangunan prioritas’ yang sering digaungkan pemerintah, namun tidak mencerminkan kebutuhan dasar masyarakat. Menurutnya, proyek pembangunan seharusnya berfokus pada fasilitas yang benar-benar dibutuhkan warga, bukan sekadar proyek estetika.

“Saya ingin tahu, apa sebenarnya definisi prioritas menurut pemerintah? Jika memang berdasarkan kebutuhan, seharusnya yang diutamakan adalah akses jalan, air bersih, semenisasi, dan drainase, bukan sekadar proyek yang mempercantik kota,” ujarnya.

Samri juga menyoroti pembangunan tugu Siluet Pesut yang dianggapnya tidak lebih penting dibandingkan dengan infrastruktur dasar di daerah pinggiran.

“Apa yang lebih mendesak, pembangunan tugu atau memperbaiki jalan yang rusak? Sementara di daerah pinggiran, masih banyak warga yang harus berhadapan dengan jalan berlumpur dan sistem drainase yang buruk, bahkan masih mengalami banjir saat hujan turun,” tambahnya.

Menurutnya, pembangunan harus selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat, bukan hanya didasarkan pada kebijakan sepihak pemerintah.

“Jangan sampai prioritas pembangunan hanya ditentukan berdasarkan keinginan pemimpin, bukan dari kebutuhan warga yang mengalami langsung dampaknya,” kata Samri.

Ia berharap pemerintah lebih serius dalam menyusun rencana pembangunan agar kesenjangan antara pusat kota dan daerah pinggiran tidak semakin melebar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *