Menarakaltim.com, Samarinda – Permasalahan sampah menjadi tantangan besar di banyak kota, termasuk Samarinda. Anggota Komisi III DPRD Samarinda, M. Andriansyah, tengah menyusun konsep pengelolaan sampah berbasis rumah tangga yang diharapkan dapat diterapkan di setiap RT mulai 2025.
Andriansyah menjelaskan bahwa permasalahan sampah tidak hanya terjadi di Samarinda, tetapi juga di kota-kota lain seperti Jakarta, Batam, dan Yogyakarta. Namun, menurutnya, solusi yang efektif harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.
“Kita harus menyelesaikan masalah sampah dari hulunya, yaitu di rumah tangga. Konsep yang sedang saya susun ini menargetkan setiap RT memiliki Tempat Pengolahan Sampah (TPS) RT atau bank sampah,” ujarnya, Kamis (13/2/2025).
Dalam skema yang dirancang, warga akan memilah sampah dari rumah menjadi tiga kategori utama: organik, anorganik, dan residu (sampah yang tidak bisa didaur ulang, seperti pembalut atau kertas nasi). Sampah anorganik yang masih bernilai, seperti plastik, dapat dipilah kembali untuk didaur ulang atau dijual ke pengepul. Sementara itu, sampah organik akan diolah menjadi kompos menggunakan mesin pencacah yang disediakan di setiap RT.
“Ada juga limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang harus diperlakukan khusus. Sampah residu dan limbah B3 ini bisa dicampur lalu dibakar menggunakan generator yang nantinya disiapkan di TPS RT,” jelasnya.
Andriansyah mengakui bahwa program ini membutuhkan komitmen kuat, partisipasi warga, serta dukungan dana untuk pengadaan alat seperti mesin pencacah dan generator sampah. Ia pun berharap pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk merealisasikan inisiatif ini.
Dari sisi pembiayaan, ia menyoroti biaya pengangkutan sampah yang saat ini berkisar Rp30.000–Rp50.000 per rumah. Dengan sistem baru ini, ia berharap biaya tersebut dapat ditekan hingga sekitar Rp20.000, karena sebagian besar sampah sudah dikelola langsung di tingkat RT.
“Masyarakat tetap perlu membayar, karena pengelolaan sampah memang memiliki biaya. Tapi seiring berjalannya waktu, jika sistem ini sudah mapan, idealnya masyarakat bisa mengelola sampah sendiri tanpa harus membayar lebih,” tambahnya.
Sebagai referensi, ia telah mengunjungi beberapa kota yang sukses menerapkan sistem serupa, termasuk Jakarta Recycle Center (JRC). Ia optimistis bahwa jika konsep ini bisa berjalan, pada 2025 Samarinda sudah memiliki model RT percontohan yang mampu mengelola sampahnya secara mandiri dan efektif.


“Kita butuh kebersamaan dan kesadaran kolektif. Jika ini berhasil, bukan tidak mungkin warga Samarinda bisa menikmati lingkungan yang lebih bersih dan biaya pengelolaan sampah yang lebih murah,” pungkasnya. (*)

