Menarakaltim.com, Samarinda – Lebih dari satu abad sejak R.A. Kartini menulis kegelisahannya dalam surat-surat yang kini abadi dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, panggilan perjuangan untuk perempuan masih terus menggema. Namun zaman telah berubah. Jika dulu jeruji penindasan datang dari budaya dan kolonialisme, kini bentuk-bentuk baru muncul dalam wajah modern: tuntutan fisik, citra sempurna di media sosial, hingga diskriminasi sistemik yang terselubung.
“Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri… bekerja tidak hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi demi kebahagiaan sesama,” tulis Kartini dalam salah satu suratnya. Sebuah pesan yang tak lekang oleh waktu, terutama bagi perempuan hari ini yang masih dihadapkan pada standar ganda dan ruang yang belum sepenuhnya adil.
Di Hari Kartini tahun ini, suara dari Samarinda datang dari Elfrida Sentyana Siburian, Kader GMNI dan Duta Peduli Sejarah Indonesia 2024/2025, yang menegaskan kembali pentingnya menjawab panggilan Kartini dengan cara yang relevan untuk zaman ini.
“Zaman sudah berubah, tapi bentuk penindasan hanya berganti rupa,” tulis Elfrida dalam refleksinya.
Ia menyebut bahwa saat ini perempuan masih dibelenggu oleh standar kecantikan, tuntutan peran ganda, hingga bias yang meragukan kemampuan perempuan untuk memimpin.
“Jangan ada lagi sebutan bahwa perempuan tak layak menjadi ketua. Bukankah perempuan adalah pendidik utama peradaban?” tegasnya.
Perjuangan pun semakin kompleks ketika perempuan harus bekerja dua kali lebih keras dari laki-laki untuk memperoleh hak yang sama. Kasus kekerasan, pelecehan, hingga ketimpangan upah masih menghantui. Bahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) telah 20 tahun mangkrak tanpa kejelasan.
“Perempuan harus menjadi manusia seutuhnya. Tak perlu meminta maaf karena ingin menjadi diri sendiri. Bangunlah ruang itu jika dunia belum memberi,” tulisnya.
Ia pun mengajak perempuan untuk tetap kritis, tidak larut dalam standar kecantikan, dan terus berkarya untuk membangun bangsa.
Meskipun pemerintah telah menetapkan kuota 30 persen partisipasi perempuan dalam politik, Elfrida menilai bahwa kebijakan tersebut seringkali hanya sebatas formalitas.
“Yang dibutuhkan adalah kepercayaan. Bukan kuota semata,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus digital dan standar sosial media yang kerap menyesatkan, Elfrida mengingatkan pentingnya pendidikan karakter dan penanaman konsep diri sejak dini.
“Jangan ukur dirimu dari jumlah likes atau followers. Ukurlah dari keberanianmu menjadi diri sendiri dan berpikir kritis,” serunya.
Panggilan Kartini hari ini, menurut Elfrida, bukan hanya untuk memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga untuk membongkar cara pikir lama yang mengekang perempuan dari dalam sistem dan budaya.
“Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan yang terus berjuang, bermimpi, belajar dan mencinta akan keadilan. Mari melanjutkan kisahnya hingga kita sampai di zaman yang baik itu,” pungkasnya. (*)

