439 Views

menarakaltim.com, SAMARINDA – Kasus stunting di Kota Samarinda tergolong masih tinggi, dan diperkirakan dari 10 anak yang lahir satu diantaranya mengalami kekurangan gizi. Hal tersebut mengundang perhatian.

Sekretaris Komisi IV DPRD Samarinda Deni Hakim Anwar mengatakan, dalam melihat persoalan ini dapat merunut latar belakang kejadian. Menurutnya, bayi stunting biasanya berkaitan dengan usia pada saat pernikahan. Karena kebanyakan bayi tersebut lahir dari ibu muda yang belum siap mengandung.

“Jadi faktor yang menyebabkan stunting tidak hanya dikarenakan kurangnya asupan gizi namun juga harus diketahui faktor sebelumnya, yaitu berkaitan dengan tumbuh kembang sang ibu juga. Patut menjadi perhatian ibu muda memang siap mengandung,” terangnya, Senin (1/11/2021).

Terlebih untuk Samarinda yang merupakan ibu kota provinsi, menurutnya, sangat disayangkan kasus stunting malah banyak terjadi. Mengingat, tingginya sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki.

Sehingga, legislatif dari Fraksi Partai Gerindra ini menyarankan, memanfaatkan CSR dari perusahaan-perusahaan yang ada di Samarinda. “Selain dapat mengembangan SDM, di sisi lain dapat membantu anak-anak yang kekurangan gizi. Supaya meminimalisir anak-anak stunting di Samarinda,” katanya.
Deni mengatakan, permasalah seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan salah satu pihak. Namun, berbagai stakeholder dari unsur pemerintahan, masyarakat juga perusahaan dapat saling bahu membahu meringankan atau menekankan kelahiran anak stunting melalui pemberian gizi.

“Saya kemarin juga ada meminta data perusahaan yang ada di Samarinda. Kita bisa bantuan dalam penanganan anak stunting ini. Semoga program ini dapat berjalan tahun depan,” pungkasnya. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *