186 Views

menarakaltim.com, SAMARINDA — Suara keresahan dari lingkungan pendidikan dasar kembali mencuat. SD 007 Sambutan, salah satu sekolah negeri di Kota Samarinda, kini tengah menghadapi kondisi fasilitas yang sangat memprihatinkan.

Dari minimnya toilet hingga ruang kelas yang tak layak, sekolah ini mencerminkan realita getir dunia pendidikan yang jauh dari kata ideal.

Markaca, anggota Komisi I DPRD Samarinda, angkat bicara menanggapi laporan tersebut. Ia menyatakan kekecewaannya atas lambannya perhatian pemerintah kota terhadap kondisi fisik sekolah yang telah lama beroperasi dan menampung ratusan siswa, namun tak pernah tersentuh pembenahan signifikan.

“Bayangkan, satu sekolah hanya memiliki dua toilet yang harus digunakan ratusan anak dan guru. Ini bukan hanya tak layak, tapi jelas melanggar prinsip dasar pendidikan yang sehat dan manusiawi,” ujar Markaca belum lama ini.

Informasi yang diterima Markaca berasal dari laporan resmi komite sekolah. Ia mengapresiasi langkah proaktif dari pihak sekolah yang telah menyampaikan kondisi tersebut lewat jalur formal.

Baginya, ini adalah sinyal kuat bahwa sekolah membutuhkan kehadiran pemerintah, bukan sekadar janji.

Kepada wartawan, ia menegaskan bahwa dirinya sudah menyampaikan langsung kondisi ini kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin.

Ia mendesak agar peninjauan lapangan segera dilakukan, tidak hanya berdasarkan tumpukan dokumen administrasi.

“Jangan tunggu ada laporan viral atau kejadian fatal. Pendidikan dasar adalah tanggung jawab utama negara. Sekolah yang menjadi fondasi pembelajaran anak-anak kita tak boleh dibiarkan dalam kondisi seperti ini,” tegasnya.

Markaca juga mengungkapkan bahwa masalah di SD 007 tak hanya sebatas toilet. Sejumlah ruang kelas dikabarkan sudah tidak layak digunakan sebagai ruang belajar.

Ventilasi buruk, cat mengelupas, dan sarana belajar yang usang menjadi potret suram yang seharusnya sudah lama disikapi.

Ia mendesak agar alokasi anggaran pendidikan tidak hanya disalurkan untuk proyek-proyek berskala besar, tetapi juga menyentuh kebutuhan mendesak di sekolah-sekolah pelosok kota.

Ia memastikan, sebagai wakil rakyat, dirinya akan terus mengawal proses ini hingga ada kepastian soal perbaikan, baik dalam waktu dekat maupun dalam skala program jangka panjang.

“Kalaupun revitalisasi total belum memungkinkan, minimal kebutuhan dasar seperti toilet segera ditangani. Ini menyangkut martabat dan hak anak-anak untuk belajar di lingkungan yang sehat,” tutupnya.

Kisah SD 007 Sambutan menjadi cermin bahwa tantangan pendidikan tidak selalu soal kurikulum dan metode belajar, tapi juga menyangkut aspek mendasar: ruang yang layak, fasilitas yang memadai, dan kepedulian yang nyata dari pemerintah. Tanpa itu, mimpi mencetak generasi unggul hanya akan menjadi slogan belaka. (ADV/DPRDSMD/RN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *