Menarakaltim.com, Samarinda – Ratusan anak di Kota Samarinda masih belum mendapatkan akses pendidikan yang layak, meskipun mereka berada dalam usia wajib belajar.
Kondisi ini menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda yang mendorong solusi alternatif agar anak-anak tersebut tetap bisa mendapatkan pendidikan dan keterampilan kerja.
Data yang dihimpun DPRD menunjukkan bahwa sepanjang 2024, sekitar 700 anak di Samarinda mengalami putus sekolah atau bahkan belum pernah bersekolah sama sekali.
Kecamatan Samarinda Seberang menjadi salah satu wilayah dengan angka putus sekolah tertinggi, di mana hasil penjaringan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mencatat setidaknya 97 anak tidak mengenyam pendidikan formal.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menekankan pentingnya akses pendidikan alternatif, seperti program kesetaraan Paket A, B, dan C. Namun, menurutnya, penyediaan pendidikan saja tidak cukup. Anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan kesetaraan juga perlu dibekali keterampilan agar memiliki peluang lebih besar di dunia kerja.
“Mereka harus memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja setelah menyelesaikan pendidikan kesetaraan,” ujar Sri Puji Astuti, Senin (17/3/2025).
Salah satu tantangan utama dalam menjalankan program ini adalah rendahnya minat anak-anak terhadap pendidikan dan pelatihan kerja. Banyak dari mereka yang telah terbiasa mencari nafkah di jalanan, sehingga sulit untuk kembali mengikuti sistem pembelajaran.
“Mereka sudah terbiasa mendapatkan uang dengan cara yang kurang baik. Oleh karena itu, perlu ada sosialisasi intensif agar mereka tertarik mengikuti program pelatihan keterampilan,” tambahnya.
Selain itu, kendala lain yang muncul setelah pelatihan adalah minimnya akses modal usaha bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Meski Pemkot Samarinda telah menyediakan skema Kredit Bertuah melalui Bankaltimtara sebagai bantuan permodalan, persyaratan yang ketat membuat banyak calon penerima kesulitan mengakses program ini.
Sri berharap keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), dapat membantu memberikan dukungan bagi anak-anak yang membutuhkan pendidikan dan pelatihan keterampilan.
“Kita harus bekerja sama mengatasi kendala ini agar anak-anak putus sekolah bisa mendapatkan pendidikan kembali dan memiliki peluang ekonomi yang lebih baik,” pungkasnya. (Adv)

