221 Views

menarakaltim.com, Samarinda – Kandidat Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) nomor urut 2, Rudy Mas’ud, yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan olahraga bersama warga, kini menghadapi isu dinasti politik.

Sorotan publik muncul karena keterlibatan beberapa anggota keluarganya dalam posisi strategis di pemerintahan Kaltim. Kakak Rudy, Rahmad Mas’ud, saat ini mencalonkan diri kembali sebagai Wali Kota Balikpapan setelah satu periode menjabat, sementara saudara lainnya, Hasanuddin Mas’ud (Hamas) dan Syahariah Mas’ud, saat ini berada di kursi DPRD Kaltim, dengan Hamas sebagai Ketua DPRD.

Terkait sorotan ini, Rudy Mas’ud memberikan klarifikasi melalui video yang tersebar luas di media sosial. Rudy menegaskan bahwa sistem politik di Indonesia berjalan secara demokratis, bukan melalui pewarisan jabatan.

“Posisi yang kami dapatkan bukan warisan, melainkan pilihan rakyat,” ungkap Rudy. Ia menambahkan bahwa dirinya berkompetisi dalam pemilihan ini berdasarkan kapabilitas dan visi yang ia tawarkan, bukan sekadar dukungan keluarga.

Di samping itu, Rudy secara konsisten menggelar kegiatan sosial untuk menjangkau masyarakat luas. Dalam kegiatan olahraga di Samarinda, ia mengajak masyarakat untuk hidup aktif dan sehat dengan senam bersama.

Menurut Rudy, kegiatan semacam ini bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga menjadi sarana interaksi yang mempererat kedekatannya dengan masyarakat.

“Saya ingin dekat dan mendengar langsung aspirasi masyarakat. Ini cara kita menjaga hubungan agar aspirasi rakyat sampai kepada pemimpin mereka,” ujarnya.

Sementara itu, akademisi Prof. Elvi turut memberikan perspektif terhadap isu dinasti politik. Menurutnya, penilaian atas isu dinasti tidak cukup hanya melalui demokrasi prosedural, tetapi harus melalui demokrasi substansial.

“Prosedur demokrasi bisa saja benar secara teknis, tetapi substansi dari demokrasi adalah sejauh mana kandidat mencerminkan aspirasi publik dan berintegritas,” papar Prof. Elvi.

Prof. Elvi menambahkan bahwa elektabilitas merupakan faktor penentu utama dalam pemilihan, bukan sekadar keterampilan atau kompetensi. Ia menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia harus mencerminkan suara rakyat, bukan pengaruh kekeluargaan atau jabatan.

Dengan berbagai klarifikasi dan kegiatan sosialnya, Rudy berharap masyarakat Kaltim dapat menilai dirinya dan calon-calon lain secara objektif. Di tengah kontestasi politik ini, Rudy juga menyerukan agar pemilu di Kaltim berjalan dengan damai, demokratis, dan menjadi ajang untuk mewujudkan aspirasi rakyat yang sesungguhnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *